BAB 1
(AKU)
Namaku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan, dan tadi baru selesai makan jeruk.
Nama belakangku, diambil dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah prajurit TNI Angkatan Darat. Dia lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Ibuku, namanya Marissa Kusumarini. Oleh teman-temannya biasa dipanggil Icha. Dia mojang Bandung yang lahir di Buah Batu. Sebelum dinikah dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya.
Nama belakangku, diambil dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah prajurit TNI Angkatan Darat. Dia lahir di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.
Ibuku, namanya Marissa Kusumarini. Oleh teman-temannya biasa dipanggil Icha. Dia mojang Bandung yang lahir di Buah Batu. Sebelum dinikah dan lalu diboyong ke Jakarta oleh ayahku, ibuku adalah seorang vocalist band yang lumayan dikenal di masyarakat musik Bandung pada masanya.
Ibuku, meski waktu itu masih remaja, tapi sudah bermain musik sama
orang-orang yang sudah tua dan keren, seperti Uwak Gito Rollies, Kang
Deddy Stanza. Juga dengan Kang Harry Rusli, yang waktu itu bikin
kelompok musik Gang of Harry Roesli. Dan kata ibu, mereka semua adalah
gurunya
Sejak kecil, aku tinggal di Jakarta, yaitu di daerah kawasan Slipi.
Tahun 1990, ayahku dipindah tugas ke Bandung, sehingga ibuku, aku, adik
bungsuku, pembantuku, dan semua barang-barang di rumah pun jadi pada
ikut pindah.
Rumahku, yang di Buah Batu, tepatnya di Jalan Banteng, adalah milik Kakekku, Bapak Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi, kakekku sudah meninggal pada bulan Mei tahun 1989.
Kabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum kami pindah, nenekku wafat. Aku juga pindah sekolah ke SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu, Bandung.
Rumahku, yang di Buah Batu, tepatnya di Jalan Banteng, adalah milik Kakekku, Bapak Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi, kakekku sudah meninggal pada bulan Mei tahun 1989.
Kabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum kami pindah, nenekku wafat. Aku juga pindah sekolah ke SMA Negeri yang ada di daerah Buah Batu, Bandung.
BAB 2
(SANG PERAMAL)
Pagi itu, di Bandung, pada bulan September tahun 1990, setelah turun
dari angkot, aku berjalan bersama yang lain untuk menuju ke sekolah. Sebagian ada yang jalan berkelompok, sedangkan aku berjalan sendirian
Saat itulah aku mendengar suara sepeda motor yang datang dari arah
belakang. Suara knalpotnya sedikit agak berisik, lalu kutengok sebentar,
pengendaranya memakai seragam SMA, kemudian aku mencoba untuk tidak
fokus pada itu.
Langsung bisa kusadari ketika sepeda motor itu mulai sejajar denganku, jalannya diperlambat, seperti sengaja agar bisa menyamai kecepatanku berjalan. Serta merta aku merasa berada dalam situasi yang tidak nyaman,
Langsung bisa kusadari ketika sepeda motor itu mulai sejajar denganku, jalannya diperlambat, seperti sengaja agar bisa menyamai kecepatanku berjalan. Serta merta aku merasa berada dalam situasi yang tidak nyaman,
Aku benar-benar tidak pernah berpikir bahwa dia akan menyapaku kemudian:
“Selamat pagi,” katanya..
“Selamat pagi,” katanya..
Kulihat wajahnya sebentar, dia tersenyum. Aku menjawab sambil mendorong helaian rambutku ke belakang telinga: “Pagi,”
“Kamu Milea, ya?”, tanya dia kemudian, mencoba membuat percakapan
“Eh?” Aku tersentak. Kutoleh lagi dirinya, memastikan barangkali aku kenal, nyatanya tidak.
“Kamu Milea, ya?”, tanya dia kemudian, mencoba membuat percakapan
“Eh?” Aku tersentak. Kutoleh lagi dirinya, memastikan barangkali aku kenal, nyatanya tidak.
Dia menatapku dan tersenyum.
“Iya.”, kataku. Alasan utamaku menjawab adalah sekadar untuk bisa bersikap ramah
“Boleh gak aku ramal?” dia nanya lagi
“Ramal?”
Aku langsung heran dengan pertanyaannya. Apa maksudnya? Kok, meramal? Kok, bukan kenalan? Aku tidak mengerti.
“Iya,” katanya. “Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin.”
“Iya.”, kataku. Alasan utamaku menjawab adalah sekadar untuk bisa bersikap ramah
“Boleh gak aku ramal?” dia nanya lagi
“Ramal?”
Aku langsung heran dengan pertanyaannya. Apa maksudnya? Kok, meramal? Kok, bukan kenalan? Aku tidak mengerti.
“Iya,” katanya. “Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin.”
Waktu jam istirahat, tadinya aku mau ke kantin, tapi sama sekali bukan untuk memenuhi ramalan anak itu. Boro-boro, kepikiran juga enggak. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk kuminum. Tapi Nandan, Ketua Murid kelas 2 Biologi 3, minta waktu ingin ngobrol denganku, katanya ada yang mau dibahas. Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar diasaja yang beli. Makasih kataku, kemudian dia pergi ke kantin.
Pada waktu kami sedang ngobrol, muncul seseorang yang bilang permisi,
lalu masuk ke kelas. Nandan, Rani, dan Agus, tahu siapa dia. Orang itu
namanya Piyan, siswa dari kelas 2 Fisika 1,
datang memberi aku surat, katanya itu surat titipan dari kawannya, tapi dia tidak menyebut nama kawannya itu.
Dengan sedikit rasa heran, setelah Piyan berlalu, kubaca surat itu:
"Milea, ramalanku, kita akan ketemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi, aku mau meramal lagi: Besok, kita akan ketemu.”
datang memberi aku surat, katanya itu surat titipan dari kawannya, tapi dia tidak menyebut nama kawannya itu.
Dengan sedikit rasa heran, setelah Piyan berlalu, kubaca surat itu:
"Milea, ramalanku, kita akan ketemu di kantin, ternyata salah. Maaf. Tapi, aku mau meramal lagi: Besok, kita akan ketemu.”
Apa? Besok bertemu? Bukankah besok itu hari Minggu?
Segera aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti gagal lagi. Bagaimana mungkin bisa bertemu, kalau tidak di sekolah?
Segera aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti gagal lagi. Bagaimana mungkin bisa bertemu, kalau tidak di sekolah?
Di hari Minggu, waktu aku sedang nyuci sepatu, aku mendengar bel rumah
berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku teriak manggil Si Bibi untuk
meladeni tamu itu.
Ya Tuhan, aku kaget, ternyata tamunya adalah Sang Peramal.
Dia berbicara dengan ku cukup lama , Akhirnya dia pulang dan memberiku sepucuk surat
Aku masuk kamar dan senyum sendiri, terutama karena memikirkan soal
ramalannya yang benar. Tapi, kenapa dia tidak membahasnya? Membahas soal
ramalan itu? Atau sengaja? Ah, entahlah.
Aku baca surat undangan darinya itu sambil selonjoran di atas kasur. Yang isinya seperti ini
Aku baca surat undangan darinya itu sambil selonjoran di atas kasur. Yang isinya seperti ini
“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan
untuk sekolah pada: Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.”
Setelah aku baca surat itu, aku tak mengerti mengapa aku langsung merasa
tak ingin pergi dari atas kasurku, aku benar-benar seperti orang yang
sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin tahu siapa dia itu
sebenarnya.
BAB 3
(DIA ADALAH DILAN)
Hari Senin, di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara, aku
berharap tidak ada satu pun orang yang tahu bahwa diam-diam mataku
mencari dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk apa juga kucari.
Mungkin cuma ingin lihat saja.
Tapi sampai upacara bendera sudah akan selesai, orang itu, Sang Peramal itu, tak berhasil kutemukan.
Di manakah dia? Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. Ah, ngapain juga kupikirin!
Di manakah dia? Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak tahu. Ah, ngapain juga kupikirin!
Seorang guru, tiba-tiba memberi komando dengan melalui pengeras suara
meminta seluruh siswa untuk jangan dulu bubar dari barisan.
Kupandang ke depan karena ingin tahu soal apa gerangan,tapi justru di saat itulah aku bisa melihat dirinya.Sang Peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya.
Dia berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP (BimbinganPenyuluhan), setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera.
Kupandang ke depan karena ingin tahu soal apa gerangan,tapi justru di saat itulah aku bisa melihat dirinya.Sang Peramal itu ada di sana, berdiri di depan, menghadap ke arah kami, bersama dua kawannya.
Dia berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP (BimbinganPenyuluhan), setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk menghindar ikut upacara bendera.
Ya namanya Dilan!
Kalau tidak salah aku sering membaca namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Baru tahu, ternyata dia orangnya!
Sejak semua itu aku betul-betul jadi merasa takut. Aku juga jadi langsung berpikir Dilan pasti sangat nakal dan mungkin jahat. Meskipun aku yakin, dia tidak seperti yang kuduga. Lagi pun kalau benar dia begitu, mengapa juga harus takut, toh, siapa pun dirinya, ayahku seorang tentara, yang akan siap menembaknya jika harus.
Tapi, tetap aja aku merasa harus menjauh darinya. Jangan biarkan dia melakukan apa pun yang akan membuatku dalam kesulitan. Aku tidak ingin membuangbuang
waktu untuk mengenal anak nakal seperti itu secara lebih jauh.
Pokoknya, mulai besok, aku harus waspada seandainya dia berusaha mendekati. Dan tidak perlu terlalu menggubris apa pun yang ia lakukan padaku, jika hal itu adalah bagian dari usahanya untuk melakukan pendekatan. Ini bukan aku bermaksud kasar kepadanya, tapi karena aku tahu itu harus. Kalau dia ingin jadi pacarku, katakanlah begitu, aku yakin dia akan minder setelah tahu siapa Beni. Harusnya, dia mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai.
Bubar dari sekolah, cuaca sedang mendung, aku pulang bersama kawan-kawan
Sesampainya di rumah, Si Bibi memberi aku surat. Itu surat yang terbungkus dalam amplop warna ungu.
Itu surat dari Beni!
Kubaca suratnya, sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku.Apa salahnya dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren kau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan kepadamu?
Maaf.
Aku simpan surat Beni, surat yang penuh kata-kata mendayu berisi soal cinta dan rindu itu.
Kata-kata indah yang dijiplak dari buku Kahlil Gibran dan puisi-puisi yang dia ambil dari majalah remaja tanpa ia cantumkan sumbernya agar aku menyangka itu adalah karyanya. Dia pikir, aku tidak pernah membaca puisi dan kata-kata itu sebelumnya.
Itu surat dari Beni!
Kubaca suratnya, sambil terus kepikiran soal Dilan yang mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku.Apa salahnya dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren kau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat undangan yang dia berikan kepadamu?
Maaf.
Aku simpan surat Beni, surat yang penuh kata-kata mendayu berisi soal cinta dan rindu itu.
Kata-kata indah yang dijiplak dari buku Kahlil Gibran dan puisi-puisi yang dia ambil dari majalah remaja tanpa ia cantumkan sumbernya agar aku menyangka itu adalah karyanya. Dia pikir, aku tidak pernah membaca puisi dan kata-kata itu sebelumnya.
Ah, Beni kurang asyik! Maksudku, mungkin aku merasa bosan dengan Beni yang itu-itu melulu. Monoton dan juga biasa!
BAB 4
(WARUNG BI EEM)
Di kantin, pada waktu istirahat, aku duduk satu meja dengan Nandan, Dito, Jenar, dan Rani.
Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak penting. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia anak kelas 2 Sosial.
Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang gak penting. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia anak kelas 2 Sosial.
Sebelum kuteruskan ceritanya, aku ingin menjelaskansedikit tentang
warung Bi Eem, biar kamu jadi punya gambaran setiap kali aku
menceritakan tempat itu.
Sebetulnya yang disebut warung Bi Eem itu, adalah berupa rumah zaman baheula, yaitu rumah antik peninggalan orang yang lumayan kaya di zaman dulu.
Rumah itu tidak keurus karena suami Bi Eem, sebagai keturunannya, secara ekonomi tidak senasib dengan leluhurnya, bahkan suami Bi Eem berstatus pengangguran.
Dinding rumahnya terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan waktu. Dicat warna hijau toska tapi sudah pudar karena sudah tidak pernah dicat ulang.
Kamar yang paling depan, oleh Bi Eem disulap jadi warung, menghadap ke arah ruang tamu yang ada di sampingnya. Ruang tamu itu dindingnya cuma setengah, tempat duduk orang-orang yang jajan di warung Bi Eem.
Posisi rumahnya berada di tikungan jalan itu, kalau gak salah bernomor 32. Di sampingnya berdiri sebuah gereja.
Untuk bisa ke warung Bi Eem, kamu harus mau jalan sejauh kira-kira 100 meter dari sekolah.
Sebetulnya yang disebut warung Bi Eem itu, adalah berupa rumah zaman baheula, yaitu rumah antik peninggalan orang yang lumayan kaya di zaman dulu.
Rumah itu tidak keurus karena suami Bi Eem, sebagai keturunannya, secara ekonomi tidak senasib dengan leluhurnya, bahkan suami Bi Eem berstatus pengangguran.
Dinding rumahnya terbuat dari kayu yang sudah lapuk dimakan waktu. Dicat warna hijau toska tapi sudah pudar karena sudah tidak pernah dicat ulang.
Kamar yang paling depan, oleh Bi Eem disulap jadi warung, menghadap ke arah ruang tamu yang ada di sampingnya. Ruang tamu itu dindingnya cuma setengah, tempat duduk orang-orang yang jajan di warung Bi Eem.
Posisi rumahnya berada di tikungan jalan itu, kalau gak salah bernomor 32. Di sampingnya berdiri sebuah gereja.
Untuk bisa ke warung Bi Eem, kamu harus mau jalan sejauh kira-kira 100 meter dari sekolah.
kembali ke cerita, di mana aku sedang ngobrol bersama Nandan, Dito,
Jenar, dan Rani di kantin.Tak lama dari itu, aku terkejut karena melihat
Dilan datang ke kantin. Dia datang bersama Piyan dan satu orang lagi
yang aku sudah lupa namanya (kalau gak salah Si Akew).
Aku tahu harusnya aku bersikap biasa saja, tapi entah gimana, saat itu secara reflex aku menjadi salah tingkah.
Dia juga selalu berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam bahan
lawakan yang sudah sering kudengar dari orang lain, bagiku, itu tak lain
dan tak bukan, adalah modus untuk mengambil hatiku.
Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas untuk ikut pelajaran lainnya.
Waktu bubar sekolah, Dilan nyusul untuk jalan di sampingku dan bilang:
“Aku harusnya ngajak kamu pulang naik motor.”
Kujawab, “Gak usah.”
“Tapi gak jadi,” kata Dilan. “Karena aku tahu kamu akan bilang gak usah.”
Mendengar itu aku senyum, kupandang dia sebentar dan dia juga senyum.
Kalau harus jujur, sebetulnya aku bisa aja nerima ajakan Dilan untuk pulang naik motor berdua dengannya, tapi aku merasa belum waktunya. Benar-benar itu lebih karena aku tidak ingin dilihat terlalu dekat dengan dia dan aku tidak tahu mengapa. Soal bahwa Dilan adalah anggota geng motor yang harus aku waspadai, kukira Dilan tidak seperti yang aku duga. Dia malah selalu bisa membuat aku tersenyum. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan saat itu.
“Aku mau datang ke rumahmu,” katanya tiba-tiba. “Malam ini.”
Hah? Aku kaget.
“Jangan!”
“Kenapa?” dia nanya.
“Ayahku galak.”
“Menggigit?”
“Serius, jangan!”
“Aku tidak takut ayahmu.”
“Jangan!” kataku. “Pokoknya jangan.”
“Aku mau datang,” katanya sambil berlalu.
“Jangan, ih!”
Tanpa aku sadar, aku bicara dengan sedikit agak teriak. Aku jadi merasa malu. Kupandangi banyak arah, berharap tak ada orang yang akan denger.
Malamnya, beneran Dilan datang. lalu kita berbicara di ruang tamu dan Dilan pun pulang
BAB 5
( PAPAN PEMBATAS KELAS)
Ke esokan hari di Sekolah ,Aku baru selesai dari kantin bersama Nandan, Hadi, dan Rani.
Gak ada Dilan. Dia jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran. Kalau
memang benar dia sedang mengejarku, kenapa tidak pernah ke kantin
menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul bersama teman-temannya di warung
Bi Eem? Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku.
Aku betul-betul ingin nanya langsung ke orangnya, dan jika rumor itu
benar, ya, sudah, aku jadi tahu siapa dirinya. Habis itu bagaimana aku
harus bersikap ke dia, ya, itu adalah hakku.
Saat itu bagiku, Dilan memang masih begitu misterius, yang selalu membuat aku penasaran untuk ingin mengenalnya lebih jauh!
Saat itu bagiku, Dilan memang masih begitu misterius, yang selalu membuat aku penasaran untuk ingin mengenalnya lebih jauh!
Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi gini?
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar